Sisi lain dari seorang Marlisa

Februari 10th, 2010

Ini Bukan Pria Yang Aku Cari (PART 1)

Posted by marlisakurniaty in cinta, hidup, masa laluku

“Ini bukan pria yang aku cari…”

Hari ini usia anakku menginjak usia 3 tahun. Dia sangat cantik, lucu, pintar, cerdas dan galak… Tidak tahu kenapa, di harinya yang istimewa ini aku malah merasa ini adalah hari yang lumayan buruk. Terlebih ketika lagi-lagi aku berhubungan kontak dengan mantan suamiku…

***

Aku pulang kerja agak malam hari ini. ATM ku tertelan di mesin atm bintaro. Ketika sampai dirumah, ak melihat wajah Nesya yang berseri-seri. Ternyata di ruang tamu ada satu set mainan anak, lucu sekali. Warnanya pink. Mainan masak-masakan itu terlihat mahal. Jika dihidupkan kompornya, maka akan keluar suara dan lampu kelap kelip. Pantas saja jika Nesya terlihat ceria malam ini. Aku perkirakan harganya  ratusan ribu rupiah. Lalu ak bertanya, “Ini dari siapa?”

Nesya menjawab, “Dari Bapak.” sambil menunjukkan tombol-tombol yang kiranya memiliki efek menghidupkan lampu-lampu lucu pada mainan itu. Aku senang melihat Nesya gembira, namun sebenarnya dalam hati ini sangat sakit sekali ketika tahu bahwa itu pemberian dari Bapaknya. Bapaknya bisa memberikan 2 mainan mahal untuk Nesya yang harganya ratusan ribu rupiah dihari ulangtahunnya, sedangkan aku pontang panting mengurus cashflow keuangan  sejak perceraian itu belum terjadi.. aku berperan sebagai singleparent -singleparent yang berusaha untuk tidak menjadi parasit orangtua terus terusan.

***

Aku jadi teringat memori-memori buruk tentang pernikahanku dengannya. ‘Salahkah aku jika meninggalkan laki-laki yang tidak pantas bagi Nesya dan aku? Aku merasa Nesya dan aku pantas menerima kepala keluarga yang layak’

Flashback ke masa lalu mulai terputar dalam ingatan… sebenarnya aku tidak ingin mengingat-ngingat tentang ini… Tapi aku belum menemukan bagaimana caranya mengatasi kesulitan tidur ini kecuali dengan menulis…

***

Di awal pernikahan kami, aku merasa ‘inilah harapan baru’ ‘inilah kehidupan baru’. Aku banyak menaruh mimpi-mimpi masa depan di dalamnya. Termasuk masa depan untuk bayi yang aku kandung saat itu. Aku sangat bahagia mengandung seorang bayi di dalam rahimku. Setiap hari aku membayangkan akan seperti apa anakku kelak. Aku banyak makan sayur. Aku tidak pernah makan makanan ber-MSG selama hamil. Jika aku tidak bisa memberikan makanan yang selalu baik, maka aku harus tetap membuat bayi mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung MSG. Aku makan makanan rumah, dan jika mengidam hanya berkeinginan makan pisang pontianak saja.

Ketika kandungan berusia sekitar 32 mingguan, suamiku mulai menunjukkan sikap-sikap yang aneh. Dia sering meninggalkanku berhari-hari untuk bermain kartu dirumah temannya. Kadang dia suka pergi beberapa hari dengan sangat tiba-tiba hanya untuk kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Mudah sekali dia mengirimkan sms, “Lis, aku sudah di Bandung. Nginep 3 hari sama temen-temen.” sedangkan sebelumnya tidak ada kata-kata ‘permisi’ untuk meminta persetujuanku. Aku terpaksa sering menerima keadaan yang seperti itu di saat kehamilanku menginjak usia semakin tua.

Dia tidak pernah tahu bagaimana aku merasa sangat ditinggalkan. Terlebih jika dia sedang tidak ada proyek (libur) dan tetap pergi seolah memang bekerja seperti biasa. Suamiku sangat pintar berbohong. Dia mengaku ‘bekerja’ kepada orangtuaku, padahal aku tahu dia main DOTA games online di kos-kosan temannya di Depok dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore layaknya seorang pekerja. Awalnya aku membiarkan hal ini karena aku melihat dia sangat senang jika berkumpul dengan teman-temannya. Namun ketika menginjak usia kehamilan 6 bulan, aku mulai merasa sangat keberatan. Terlebih pada saat aku sibuk membantu mengetik tugas miliknya di rumah, suamiku malah sibuk main DOTA seharian di kosan temannya.

Ketika usia kandungan 8 bulan. Aku ingin dia bersiap-siap jika tiba-tiba bayinya lahir. Kenyataannya, suamiku malah tidak pulang 3 hari untuk ikut pertandingan kartu bersama-sama tim nya. Aku sedang hamil tua dan aku tidak pernah setuju jika dia pergi seenaknya berhari-hari tidak pulang seperti biasa.  Dia selalu memberi kabar ketika sudah berada jauh disana.  Sering sekali kami ribut-ribut sampai akhirnya tiba dimana ketubanku pecah sebelum waktunya.

Aku sangat kaget pagi itu. Tiba-tiba banyak cairan bening di kasurku. Aku mengira aku mengompol di kasur. Ternyata ketubanku pecah. Aku langsung dibawa ke rumahsakit bersalin dan diberikan suntikan oleh dokter. Aku mengalami bukaan dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Rasanya seperti mau mati. Sakit sekali. Terkadang aku merasa seperti tidak akan bisa bernafas karena menahan sakit. Jika sedang kesakitan, mulutku megap-megap seperti ikan yang kesulitan bernafas. Suamiku selalu senyum-senyum melihat aku kesakitan. “Muka kamu lucu.” katanya…

Aku sangat sakit hati mendengarnya… Dia pikir aku badut? aku sedang kesakitan!! Dan disaat aku sedang megap-megap itulah tiba-tiba dia memasukkan pisang goreng besar ke dalam mulutku. Aku hampir tidak bisa bernafas saat itu karena nafas yang aku ambil kebanyakan dari mulut. Aku merasa akan mati sampai disaat dia menarik kembali pisang itu dari mulutku setelah selesai tertawa. Tepat di saat itu hatiku berkata, “Ini bukan pria yang aku cari…”

Namun aku masih berpikir dia adalah laki-laki yang baik. Dia meluangkan waktu untuk menemaniku dirumah sakit, dan sebentar lagi bayi ini akan lahir. Aku sangat tersiksa ketika kontraksi itu tiba-tiba datang. Setengah hari lamanya..

Pukul 2 lewat ak merasa bayi ini akan keluar. Para suster segera menyiapkan alat-alat untuk melahirkan. Mereka bergegas memindahkan aku ke ruangan bersalin. Salah satu suster berkata, “Ibu.. Suaminya Marlisa mana? Sebaiknya ada yang menemani pas bayinya akan lahir.”

Ibuku berkata, “Saya saja yang menemani, Sus. Suaminya baru saja pergi ada urusan mendadak.”

Di dalam ruangan aku sangat kecewa ketika tahu dia tidak menemaniku. Anaknya akan lahir, bukankah seharusnya dia menyambut dengan  sukacita sambil berada disebelahku? Bagaimana dengan perkataan-perkataannya dulu yang bilang akan menemaniku saat melahirkan?

“Dia kemana, Ma?”, aku bertanya. “Tadi pamit mau cari warnet yang deket. Katanya ada urusan penting.” Jawab ibuku.

Dunia rasanya terbalik. Aku ingin segera kiamat saja jika mengingat kejadian ini. Aku kecewa. Dan bagiku, Tuhan mulai menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Bayiku lahir pada pukul 14.28 dengan berat 2,8 kilo. Kelahiranku normal. Dokter bilang jahitanku akan mengering dan sembuh dalam jangka waktu 1 bulan.

***

Bayiku diberi nama Nesya Khairunisa. Nesya pemberian dari ibu mertua, sedangkan Khairunisa pemberian dari orang tuaku. Belakangan aku tahu bahwa Nesya adalah nama bayi perempuan mertuaku yang sempat meninggal.

Keseharianku terasa sangat berbeda setelah ada kehadiran Nesya di rumah. Nesya termasuk bayi yang sangat aktif. Setiap satu jam sekali ia menagih susu. Itulah sebabnya berat badanku yang tadinya naik sekitar sebelas kilo, langsung turun drastis dalam sebulan. Aku mengurus Nesya bergantian dengan ibuku. Terkadang ibu mertua juga datang untuk membantu.

Baru 1 minggu usia Nesya. Keluarga tante dari pihak suami datang ke rumah. Mereka membawa banyak perabotan bekas yang masih bisa dipakai untuk Nesya. Ketika siang hari sebelum mereka pulang, salah satu tante tersebut berkata kepadaku, “Suamimu semenjak kawin kok jadi kelihatan tidak terurus ya? kaya orang gak mandi. Lihat tuh kuku kakinya item-item gitu.”

Aku menjawab, “Iya, belum sempat urusin karena jahitan belum kering. Belum bisa mondar mandir.” Aku mengeluh dalam hati, ‘Jangankan mengurus suami… suamiku saja tidak mau bangun kalau Nesya minta susu satu jam sekali.’

Tidak lama ibu mertuaku datang. Dia menimpali pembicaraan sebelumnya dan berkata, “Iya ya, suaminya kaya gak keurus… Kamu itu Lis.. seminggu sekali sikatin donk badannya. Apalagi dibagian belakangnya kan dia gak bisa sikat sendiri, kamu sikatin supaya gak berdaki. Terus kukunya, itu selama mama yang urus belum pernah kuku kakinya hitam kaya gitu. Biasanya mama sikat juga pake sikat kaki.”

Aku terdiam. Kaget setengah mati. Aku berpikir apakah orang-orang ini tidak pernah merasakan mengurus bayi sendiri? Setiap jam aku bangun.. Tidur tidak teratur mengikuti bangun dan pipisnya sang bayi, mereka malah menyuruh aku mengurus suami layaknya bayi juga?? Idealnya bagi ku, suamiku yang harus membantuku mengurus bayi, bukan malah aku mengurus orang yang sudah gede!!! Mencuci popok anaknya sendiri dia tidak mau… Hanya ibuku yang benar-benar ikhlas mengurus aku dan Nesya, sampai jahitan ini benar-benar sembuh.

*** bersambung ***

Sebelum kisah ini benar-benar komplit dan jika suatu hari Nesya sudah dewasa,,, sehingga membaca ini semua, aku ingin ia tahu bahwa aku sudah memilih jalan yang terbaik bagi semuanya. Baginya, aku, Bapak, Ibu dan keluarga mertua.

Agustus 8th, 2009

Ketika Waktu Berjalan Tanpa Kamu

Posted by marlisakurniaty in cinta

Ketika waktu berjalan tanpa kamu. Aku masih saja menyusuri jalan setapak itu. Aku berjalan menyusuri jejak tanah yang terinjak dengan rapi. Sepertinya aku tertuntun ke suatu tempat -dan aku berharap akan sampai pada kawah cinta.

Sesaat aku terhenti, merasakan sayapku yang perih. Patah. Beberapa silam saat baju sulaman pertamaku diciptakan, sayapku tersangkut pautan kayu. Kulitnya mengelupas dan sedikit buluku rontok. Aku terbang dan ternyata hanya kuasa Tuhan yang menjadikan sayapku mengepak.

Aku terus mengejar garis lurus itu -jalan setapak, maksudku. Terus mengejar kamu-kamu lainnya. Namun nadiku membisikkan kisah takdir lain yang akan membentangi dirinya ke hadapanku. Aku terbelalak ketika melihat bentangan yang sangat panjang dan pinggirannya diukir dengan indah seperti grafir milik Sang Bragi.

***

“Apakah ini endymionmu?”, tanyaku kepadanya.

“Jika ya, apakah ini akan indah bagimu?”, balasnya.

“Umm, tidak wahai Cantik. Tidak akan ada yang indah ketika aku berjalan tanpa waktu yang diiringi Sang Kekasih. Seolah seperti dirimu yang tidak bisa merengkuh laskarmu.”

Ia membisu. Aku terdiam. ‘Salahkah aku berucap?’, gumamku dalam hati.

Agustus 4th, 2009

Aku Menikah Bukan Atas Dasar Cinta

Posted by marlisakurniaty in cinta, hidup, masa laluku

[Sebelum berkomentar seperti yangterjadi pada salah satu thread Kas*us, tolong jadikan acuan bahwa adalah hak penulis untuk menulis apapun (baik fiktif maupun fakta) di dalam blog. Tulisan ini tidak menyebutkan nama siapapun. Kisah disini juga tidak hanya 1 org yang mengalaminya... banyak rumah tangga yang awalnya dijalani tanpa cinta, saling tidak kenal, bahkan hanya pelarian atau alasan tertentu demi kebaikan. Mohon di sikapi dengan bijak.]

Aku menikah bukan atas dasar cinta. Aku menikah karena ingin lari dari rumah ini, karena bagiku semua pria hampir sama setelah aku tidak lagi bersamanya.

Aku mencintai hanya seorang pria dalam hidupku, setelah bertemu dengannya 9 tahun yang lalu. Tuhan memberikan aku kesempatan memilikinya selama 3,5 tahun. Sekarang aku baru tersadar betapa bodohnya aku yang telah gagal menjaga hubungan itu. Mungkin lebih tepatnya ‘kami‘ yang telah gagal menjaga hubungan itu.

***

Aku sangat jatuh cinta pada saat itu. Orang tua jaman sekarang lebih sering menyebut prasaan seperti itu dengan istilah ‘cinta monyet’ karena terjadi semasa remaja dan masih sekolah. Yah, aku memang masih sangat ingusan dan lugu. Aku hanya menjalani apa yang telah dituntun oleh perasaanku. Aku sangat bahagia karena disaat keluarga tidak memberikan kasih sayang, aku mendapatkannya dari orang yang aku kasihi. Betapa aku seorang pelajar yang haus akan kasih sayang keluarga. (2001)

Semenjak aku kuliah di tempat yang agak jauh,  dia bekerja sambilan di tempat hiburan. Keadaanpun mulai berubah dan kami jarang bertemu. Cintaku yang aku kenal bukan lagi seperti malaikat penjaga. Aku sangat terpuruk dan tertekan oleh perubahan drastis darinya. Walau demikian, tetap saja banyak kertas berserakan di kamarku yang menuliskan semua tentang namanya, menuliskan betapa aku mencintainya dan ramalan-ramalan masa depan yang menggambarkan ketakutan yang kumiliki bahwa aku akan kehilangan dirinya. Dan itu pun nyata terjadi, perpisahan… (2003)

Perpisahan diriku dengannya sangat membuat aku terpuruk. Aku yakin bahwa teman satu kamarku bisa merasakan hal ini. Aku sering kedapatan sedang menangisi kepedihan hatiku dimalam hari. Aku sangat tidak tahu bagaimana cara menghentikan kalutku ini. Aku tidak lagi menahan tangis. Aku selalu membiarkan jari-jariku menuliskan apa yang aku rasa ke dalam kertas putih. Aku…. benar-benar baru merasakan kejatuhan yang luar biasa dalam hidup. (2004)

Selama satu tahun aku mencoba menjalani hidup baru dengan melupakan segala tentang dirinya. Aku tidak sabar dengan waktu.. bagiku, waktu sudah terlalu lama menyiksa pikiran dan menghabiskan tenagaku. Aku mencoba mengendurkan kembali benang-benang kusut di hati agar bisa kuurai menjadi cinta, aku mencoba dengan beberapa pria (berharap untuk bisa menggantikan posisi cinta sejatiku di sini -dihati).

Setahun…. dua tahun… aku tidak lagi merasakan getaran-getaran cinta itu kepada laki-laki manapun. Mungkin memang hati ini belum bisa mendapatkan frekuensi yang tepat seperti yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu. Bagiku, semua pria hampir sama semenjak aku tidak lagi bersamanya.

***

Aku punya cita-cita menikah muda. Dalam benakku, betapa menyenangkannya bila hidup mempunyai pasangan yang setia di dalam susah dan senang, saling menyayangi satu sama lain dan berusaha keras mewujudkan kehidupan yang telah di skenariokan bersama. Aku memimpikan rumah baru. Menata hidup baru dan sejenak melepaskan segala hal tentang schizophrenia. Konsentrasi pada rumah tangga yang kumiliki.

Aku tidak akan membiarkan cita-citaku ini kandas hanya karena pria itu yang tidak bisa kumiliki lagi. Setelah lulus kuliah, aku pun menikah… namun bukan dengan orang yang aku cintai. Aku sadar, aku menikah karena ingin lari dari rumah ini. Aku penat dengan segala bisingnya tali persaudaraan. Aku muak dengan schizophrenia. Aku lelah dengan ayah, ibu, dukun, paranormal dan kiyai.

Dan.. disaat seperti itulah seorang laki-laki menawariku berbagai macam keindahan. Aku terhanyut dengan perkataannya, tapi bukan cinta. Aku tenggelam dalam semua 1000 janjinya dan mengangguk ‘Ya’ saat dia menyatakan akan menikahiku. Aku tidak sabar menunggu, menunggu berdirinya kerajaanku sendiri.

Maret 11th, 2009

Batas-batas

Posted by marlisakurniaty in hidup, masa laluku

Ada kalanya semua yang kita simpan itu melebihi kapasitas. Ada kalanya apa yang kita pendam itu melampaui batas-batas. Dan pada saat itu lah kita memiliki dua pilihan, melampaui garis atau malah pergi sama sekali.

 

Rapuh yang kurasa tidak akan bisa menepi jika aku terus mendalami pola yang kalian ukirkan. Mohon maaf jika duniaku tidak sama.

Bukan pula salahku jika hidupku tidak seindah yang kalian pikirkan. Kini nasibku berada pada naungan, tapi apakah bisa kalian mengembalikan keadaan yang telah usai?

Tolong jangan salahkan masa laluku yang sudah sangat ‘maksimal’ karena sesungguhnya kalian belum cukup mengerti jauh apa arti kehidupan.

Tidakpun semua Sufi merasa suci… - coba pikirkan -

 

Aku cukup lelah dengan lika-liku ritual kalian. Aku hanya ingin semua cepat selesai  -dan aku kembali menggapai awan.

Aku ingin kembali merengkuh dimensi-dimensi yang aku jalani.

Akupun berpura-pura bodoh. 

Aku menjadi naif seketika saat kalian berlomba saling menjatuhkan, tapi siapa yang dijatuhkan? kita kah?

Hatiku hanya tak sanggup menerima kenyataan bahwa kalian adalah musuh kejujuran. Jadi tolong tinggalkan aku setelah aku mencapai pada puncak yang aku miliki -MENGALAH.

***

Hanya itu yang bisa ku berikan pada kalian. Kekalahan yang aku ciptakan sendiri. 

Ada kalanya semua yang kita simpan itu melebihi kapasitas.

Ada kalanya apa yang kita pendam itu melampaui batas-batas.

Dan pada saat itulah aku memiliki dua pilihan, melampaui garis atau malah pergi sama sekali.

Aku memilih pergi. Tinggalkan kalian tanpa harus mencari-cari bunga yang berpekat itu lagi.

Semoga aku bahagia dengan pilihanku sendiri -amiin.

***

 

aku ≠ kalian

Hanya untuk Maretku

Februari 27th, 2009

Posted by marlisakurniaty in cinta

Tidak pernah ada waktu untuk tersakiti.

Februari 7th, 2009

Pria itu..

Posted by marlisakurniaty in cinta

Ada satu pria yang sangat soleh yang aku kenal. Namanya Zain Mardhika. Dulu aku sering melihatnya sedikit menyendiri di bangku sekolah. Mmm bukan menyendiri, mungkin lebih pas jika dibilang dia pemilih dalam berteman. Dia bukan orang yang pendiam sekali, dia bisa melucu dan diam-diam menghanyutkan. Dia sangat sederhana dan tidak pernah bergaya. Pernah aku memperhatikan sepatunya, lalu aku bertanya dalam hati ‘kenapa dia tidak membeli yang baru?’

Aku masih ingat bagaimana rasa penasaranku saat itu tentang cara hidupnya, sangat jauh dari bergaya. Selalu setiap tahun aku melihat Zain mengenakan pakaian seragam berwarna kumal. Aku sempat berfikir untuk membuntutinya jika pulang sekolah, tapi hal itu aku hapus dari tumpukan niat-niat anehku.

Baru malam ini aku bertanya langsung padanya. Ternyata rasa penasaranku yang dulu itu sangat beralasan. Ada kisah yang sangat menarik dibalik penampilannya semasa SMP itu. Ya, dia memang memiliki daya tarik tersendiri bagiku.

Aku sempat menitikkan air mata ketika tahu bahwa dia hidup tanpa kedua orangtuanya. Dan aku hanya bisa menarik napas sedalam-dalamnya saat dia bercerita bahwa adalah keputusannya sendiri untuk hidup tanpa Papa dan Ibu. Keputusan yang sangat berani untuk anak yang baru mau menginjakkan kaki pada sekolah menengah. Kok bisa? Ternyata pria ini sudah memiliki Allah di dalam hatinya sejak kecil. Tanpa kedua orangtuanya dia mampu bersekolah dengan cara mendapatkan beasiswa-beasiswa. Padahal kedua orangtuanya masih ada.

Yang paling menyentuh adalah cerita dirinya yang bisa berkuliah karena kekuatan sholat dhuha. Semasa SMA, Zain selalu berusaha mendapatkan beasiswa karena dirinya tidak mau merepotkan keluarga. Walaupun otaknya encer, ternyata Zain sangat sering membolos pada saat mata pelajaran pertama di pagi hari. Semua itu dia lakukan karena dirinya lebih mengutamakan solat Dhuha daripada belajar di kelas. Wow! That’s cool! -Asli keren abis. Perbandingan yang tidak bisa disamakan dengan anak-anak sekolah yang membolos untuk main PS atau makan di kantin-

Karena aksi pembolosan yang sangat sering, ada salah satu guru yang menaruh curiga. Zain pun diselidiki dan langsung dipanggil menghadap. Lalu Zain menceritakan kondisi keluarganya yang broken home pada saat itu. Dia juga menjelaskan bahwa selama ini dia bersekolah tanpa biaya sepeserpun dari kedua orangtuanya. Luluh lantah hati sang ibu guru mendengar perjuangan Zain yang pintar ini, berjuang demi bersekolah. Zain pun akhirnya direkomendasikan masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung dan mengambil jurusan teknik.

Subhanallah! Benar-benar kegalauan hati temanku ini dijawab olehNya. Sedangkan aku?? Semasa ABG seperti itu kemana aku mengadu? ke teman-teman. Semasa SMA aku malah lupa akan Tuhan. Padahal Tuhan adalah tempat terbaik untuk dimintakan pilihan yang terbaik. Sungguh bodohnya aku, memiliki jalan keluar yang terbaik tetapi tidak menyadarinya. Malah punya keinginan untuk memecat Tuhan…

Aku benar-benar malu jika membandingkan masa-masa muda diriku dengan Zain. Tapi begitulah jalan hidup, berbeda-beda jalurnya untuk setiap orang. Dan kini Zain sedang mempersiapkan diri untuk bersekolah S2 di Jerman. Benar-benar aku salut! Zain mampu bersekolah tanpa biaya dari orangtua padahal Papanya adalah presdir komisaris di salah satu oil company. Yang paling membanggakan adalah semua prestasi dirinya, semua kekayaan orangtuanya tidak membuat Zain jauh dari Allah.

 

Semoga Allah tetap melindungi Zain agar tetap dekat denganNya. Karena dari sanalah aku jadi mulai berkaca ke dalam diri sendiri… kapan aku akan berjilbab? Karena jilbab adalah suatu kewajiban dariNya.


Terkadang, tanpa sadar seseorang dapat memberikan kita semangat atau sesuatu yang berbeda yang dapat membuat kita tergerak -tersadar- untuk berubah.

Januari 17th, 2009

Memecat Tuhan

Posted by marlisakurniaty in hidup, schizophrenia  Tagged

Ingin sekali rasanya memecat Tuhan jika Tuhan itu memang ada.

Aku ingin sekali menghapus kepercayaanku atas eksistensi Tuhan. Aku tidak peduli dengan teguran halus hatiku yang mengatakan bahwa aku sudah tersesat -karena terbesitnya pemikiran kotor tersebut. Ya, aku ingin sekali memecat Tuhan dari kehidupanku.

Rasanya bukan tanpa alasan jika aku sampai berpikir seperti itu. Kebanyakan orang mengatakan bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tapi kenapa bukan kasih yang Dia berikan kepadaku? kepedihan, lalu dilanjutkan dengan kepedihan berkelanjutan.

Bagaimana tidak? Aku selalu berdoa agar kedua orangtuaku berhenti bergonta-ganti dalam mencari orang pintar yang bisa menyembuhkan penyakit adikku tapi tidak juga dikabulkan oleh-Nya. Kesedihan yang tidak terperikan ketika melihat Sari dipaksa menanggalkan baju hanya untuk kewajiban mandi kembang 7 rupa. Sari diseret beramai-ramai sambil ia meronta-ronta sekuat tenaga dan berteriak menolak perlakuan itu. Untuk memperlancar ritual mandi tersebut, beramai-ramai mereka melepas daun pintu kamar mandi agar Sari bisa dimandikan ’sesuai dengan cara yang benar’. Bagiku bukan orangtua ku yang biadab, tetapi Tuhan lah yang biadab sengaja memberikan kondisi seperti itu kepadaku.

Seusai ritual mandi itu kedua mata Sari berkaca-kaca tapi tidak menangis (mungkin menahan perasaan sakit hatinya), lalu berkata kepadaku, “Lis, tolong gw. Kenapa sih gw diperlakukan kaya orang gila? Kenapa sikap mama nunjukin seolah-olah gw gila? Gw ga gila! Gw masih waras. Justru menurut gw mereka yang gila. Masa gw disuruh mandi kembang? Mereka yang ga punya iman!!”

Jujur saja aku tidak menjawab apa-apa saat itu. Aku hanya menatap dalam pandangan matanya, lalu menyadari air mataku akan segera keluar dalam waktu kurang dari 5 detik. Pilu sekali mendengar kata-kata dan ucapannya. Aku bergegas ke kamar. Aku menangis, tanpa suara.

“Inikah mau-Mu, Tuhan? Melihatku selalu menangis? Kenapa tidak Kau berikan saja aku ujian-ujian yang ringan? Kenapa seberat ini? Aku bukan hanya pasrah berdoa, melainkan juga berusaha mengingatkan mereka bahwa itu tidak benar.. tapi kenapa Kau biarkan? Kenapa Kau acuhkan doaku?”

***

Tuhan memberikanku sebuah keluarga yang terlalu istimewa. Terkadang aku merasa tidak sanggup untuk menjalani kehidupanku bersama mereka. Mungkin itu semua karena aku memiliki pandangan ideal sendiri sebagai seorang anak dalam menjalankan peranku pada keluarga.

Sayangnya pandangan idealku sangat berbeda dengan Tuhan. Dia memposisikan aku sangat jauh dari yang aku harapkan. Aku melarikan diri dengan cara hidup mandiri di Depok. Menyewa kamar kos adalah salah satu alternatifku untuk menjauhi semua kepedihan hatiku di rumah. Tetapi apa daya jika Tuhan Maha Kuasa? Lagi-lagi Dia memberikan aku ujian terberat yang pernah aku rasakan selama hidupku. Aku tidak akan pernah bisa melupakan masa-masa paling kelam dimana salah satu kaki Sari terpaksa di rantai dengan rantai besi bergembok setelah ia dipulangkan dari pesantren milik salah satu personel tim Pemburu Hantu di Tangerang.

Orangtuaku bilang Sari tidak mendapatkan perubahan apapun di pesantren itu. Syarat yang diperlu dilakukan Sari disana hanya Sholat, berdzikir, dan kedua orangtua yang bersedekah.  Pertanyaan selanjutnya adalah ‘bagaimana Sari bisa solat dan berdzikir jika dirinya saja mengalami gangguan kejiwaan? Bukankah orang yang terganggu kewarasannya itu dibebastugaskan dari kewajiban 5 Rukun Islam??’

Aku sudah berulangkali mengatakan kepada kedua orangtuaku bahwa Sari bukan terkena gangguan Jin. Aku juga bilang Sari bukan terkena santet dan semacamnya. Dulu aku bilang bahwa sebaiknya Sari dibawa ke RSJ Grogol agar diperiksa. Namun kedua orangtuaku tidak sanggup melihat anak kesayangannya masuk rumah sakit jiwa.

Kadangkala aku datang ke pesantren itu untuk melihat keadaan Sari. Sebenarnya aku benci untuk datang ke tempat itu. Aku benci membiarkan Tuhan tertawa melihat aku yang teriris-iris karena melihat Sari pipis di sembarang tempat. Aku benci melihat orang-orang mendobrak pintu karena Sari mengurung dirinya di kamar mandi berjam-jam sampai bibirnya membiru dan menggigil kedinginan. Aku benci melihat Sari sering berjalan mundur. Aku benci mendengar omongan-omongan mereka yang sangat yakin bahwa Sari terkena santet yang nyasar ke dirinya. Aku benci mendengar semua bahasa Sari yang tidak ada satupun orang yang bisa mengerti artinya. Aku benci melihat posisi tidur Sari yang meringkuk sendirian di atas lantai tanpa alas apapun. Di pesantren itu, Sari tidak mau disentuh siapapun. Tidak mau di dekati oleh siapapun. Hanya aku yang ia perbolehkan berjarak dekat dengannya. Persis seperti orang paranoid. Kadang pula, hanya aku dan ayu Nani yang bisa menyuapinya makan. Aku benci mendengar Sari mengatakan “Yesus Soha. Yesus Soha.” -tidak ada artinya dalam bahasa apapun, hanya karangan khayalannya saja yang merasa menjadi manusia pilihan. Aku benci mendengar berita Sari tidak makan berhari-hari. Aku sungguh benci segala sesuatu yang terjadi di tempat itu.

Sepulangnya dari pesantren di Tangerang, Sari dirantai di ruang keluarga -mengingat Sari pernah menusuk papa dari belakang dengan menggunakan beling. Ia tidur tanpa kasur. Ia berbicara sendiri menurut bahasanya, kami menyebutnya bahasa cina karena logatnya yang mirip bahasa cina. Kadang ia mematung tanpa bergerak dalam waktu yang lama. Ia tertawa dan menangis tanpa sebab jelas lalu menabrakkan kepalanya ke dinding. Ia makan dengan tangan yang keduanya menempel terikat rantai besi. Sesekali ia makan dengan tanpa menggunakan tangan -Tuhan, kenapa begitu berat hidup yang harus aku lalui? Jika diizinkan, biar aku saja yang terkena Schizophrenia, jangan dia. Menjadi gila lebih baik rasanya dibandingkan merasakan hal-hal seperti ini. Ia sedarah denganku, tentu saja aku sangat merasakannya. Sembuhkanlah ia secepatnya..

Pernah satu kali Sari berkata dengan cukup jelas. Hanya kata-kata ini yang bisa kami semua mengerti, “Lisaaaa.. Lisaaa..”

Ia berteriak memanggilku saat aku lewat di depannya. “Makan pisang. Lisa. Makan pisang.”

Hatiku senang sekali saat itu. Namaku bisa ia sebut dengan susah payah. Mungkin lidahnya masih mengingat bagaimana cara mengucap namaku. Aku langsung bergegas mengambil pisang di meja. Orang-orang kebingungan melihat Sari yang mau aku suapi pisang. Biasanya ia marah jika di dekati, tapi tidak saat itu. Sejak itu Sari sudah mulai menurut jika dimandikan. Ia hanya mau dimandikan oleh aku atau Bu Zainudin, tetangga rumah. Lalu aku terlintas dalam pikiranku saat itu, ‘Siapa yang akan memandikan Sari jika aku sudah mulai berkuliah lagi nanti? Tentu saja tidak bisa mengandalkan tetangga setiap hari.’ Sayangnya pemikiran itu aku tepis jauh-jauh.

***

Sudah seminggu lebih aku berada di rumah selama Sari di rantai. Pernah aku mengusulkan agar rantainya dilepaskan saja. Tetapi malah justru dia mengunci diri di kamar. Maka semua kunci kamarpun disimpan. Setelah itu Sari malah justru sering keluar rumah sambil berjalan mundur. Kadang jalannya sangat cepat, jadi kami harus berpencar mencarinya. Untungnya para tetangga sudah banyak yang mengenal Sari, sehingga Sari dikembalikan ke rumah dengan cepat.

Lalu suatu pagi, seperti biasanya Sari dilepaskan untuk mandi pagi dalam keadaan tangan yang masih di borgol. Tidak seperti biasanya, pagi itu ia tidak mau dimandikan oleh siapapun. Tetangga yang lainpun ada beberapa yang mencoba membujuk tetapi tidak berhasil. Sari tetap mau masuk kamar mandi, tapi hanya sendiri. Ia main air. Setengah jam kemudian, “BRAK! Klek!”

Pintu kamar mandi dengan suksesnya ia kunci dari dalam. Suara air semakin semarak kami dengar. Aku dan Kak Efi setia menunggunya di depan pintu. Lalu keadaan hening beberapa saat. Sari terdiam di dalam. Aku dan Kak Efi berusaha membujuknya keluar.

Tetap saja tidak berhasil. Akhirnya setelah merasa sudah terlalu lama Sari berada di dalam, kami menjebol pintu kamar mandi. Alangkah kagetnya aku ketika melihat Sari sedang memainkan kotorannya sendiri di lantai dengan menggunakan borgol dan rantai yang masih menempel di kakinya. Semua badannya berbau. Aku secara pribadi sudah tidak sanggup melihatnya, aku pergi keluar rumah. Entah kemana aku lupa. Perasaanku berkecamuk. Untuk pertama kalinya aku menjalani minggu-minggu yang lebih berat dari sebelumnya.

***

Dalam pelarianku itu aku berkata dalam hati :

“Tuhan, jika aku bisa memecatmu sebagai Tuhan pastinya akan aku lakukan saat ini juga agar aku tidak terus berharap kepada-Mu. Seandainya saja aku mampu menghilangkan rasa bergantungku kepada-Mu…

Jika aku sanggup untuk tidak mempercayai keberadaan-Mu, pastinya aku tidak lagi akan menangis kehadapan-Mu dan mempertanyakan kapan Engkau akan kabulkan doa-doa untuk kesembuhan adikku?

Jika saja aku bisa melepaskan diriku dari-Mu dan menghentikan percakapan kita di malam hari, menghentikan semua keluh kesahku kepada-Mu. Aku merasa lelah dengan semua makna-Mu yang tidak pernah aku mengerti. Aku kadang putus asa dengan kesenangan-Mu melihatku merasa jatuh.”

***

Inginku memecat Tuhan…

( namun aku tak mampu… )

Januari 13th, 2009

Bila Aku Jatuh Cinta

Posted by marlisakurniaty in cinta

Satu lagi tentang cinta, aku menemukan kata-kata yang indah dari suatu situs islami.

***

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Januari 8th, 2009

Kenapa Jatuh Cinta Sama Blogdetik??

Posted by marlisakurniaty in hidup

Aku tidak tahu kenapa, hatiku jadi nyangkut di Blogdetik…

***

Pertama kali aku punya blog adalah setelah lulus kuliah.

Blog yang pertama kali aku pakai adalah Blogspot. Aku memakai Blogspot sebagai alat untuk mempraktekkan Google Adsense. Namun hal itu gak bertahan lama karena pada dasarnya aku cuma coba-coba (*dan juga gagal adsense nya). Blogspot pun aku tinggalkan. Lalu aku beralih ke blog Friendster untuk menuangkan segala kisah tentang penatku di kantor. Tapi kok jadi ga merasa benar-benar blog ya? karena lebih berat ke situs pertemanan dibandingkan sisi kekentalan blognya (hayah! kekentalan blog apa sih?)

Beberapa tahun kemudian aku menemukan Multiply yang dahsyat. Kapasitasnya besar untuk bisa mengupload video dan lagu yang akan disimpan. Tapi… masih ada tapinya! Kok yang bisa komen cuma sesama anggota Multiply sih??? Huhuhu kecewa deh. Sedikit sih!

Sampai akhirnya aku menemukan blog seorang artis bernama Maia Estianti di Blogdetik. Disana aku melihat blog yang mirip sekali dengan Wordpress. Aku jadi teringat blog Wordpress ku yang sudah lama terlupakan.. begitu juga dengan password nya, terlupakan!! ^_^

Beranjak dari sana aku jadi berniat membuat blog baru yang sifatnya sangat pribadi. Sudah lama aku ingin bercerita tentang adikku yang menderita Schizophrenia. Aku ingin menumpahkan penderitaanku sebagai seorang kakak yang sangat sedih melihat tingkah adiknya yang berada di atas batas kewajaran. Aku ingin tulisan itu menjadi catatan pribadiku jika aku sudah tua nanti. Aku juga ingin agar adikku tahu apa yang sebenarnya terjadi jika suatu saat ia sembuh. Akhh.. terlalu banyak perencanaan..

Pada  suatu malam aku menulis untuk pertamakalinya di Blogdetik-ku yang baru. Aku menulis dengan sepenuh hati. Judulnya Adikku Adalah Sainganku. Aku juga memindahkan beberapa curhatan-curhatan hatiku yang masih tersimpan di lembar-lembar sobek yang tersimpan di kamar. Aku tuliskan di sana sedikit tentang cinta.

Hal yang paling mencengangkannya adalah pada hari ke tujuh.

Salah satu temanku tiba-tiba berkomentar di YM ID ku, “Mba, mudah-mudahan itu bukan blognya mba ya..”

“Blog yang mana?” Tanyaku. Karena aku memiliki banyak sekali blog-blog bekas pakai (heheh)

“Itu yang isinya tentang adik kamu.” katanya.

“Haaa? yang mana? Perasaan gw ga kasih tau siapa-siapa alamat urlnya…???” Jujur saja aku sangat kaget karena baru seminggu aku posting di Blogdetik kok tiba-tiba sudah ada yang tahu tentang tulisanku. Lalu aku tanya dia tahu dari mana.

“Ratusan orang kali mba yang udah baca. Selamat ya, udah jadi blog pilihan di detik.com…”

…. hening… (tiba-tiba terasa malu.. curhatanku dibaca banyak orang! sangat diluar rencana.)

Aku langsung menuju www.blogdetik.com dan melihat fotoku terpampang disana, Blog Pilihan. Begitu melihat ratusan komentar, aku benar-benar shock. Dan ternyata Bos ku tau tentang hal ini. Dia yang sedang di rumah menyempatkan diri menelepon dan menanyakan apakah benar itu blog milikku. Aku cuma bisa bilang, “benar…”

Teman-teman di kantor jadi tahu kalau adikku mengidap Schizophrenia. Mereka jadi tanya ini itu tentang Schizophrenia.

Sungguh, aku benar-benar tidak tahu kalau Blogdetik menyaring banyak tulisan untuk dijadikan Blog Star - Blog Pilihan - Blog Terbaru. Sepengalamanku, blog ya hanya untuk menulis saja tanpa ada publikasi seperti itu.

Dari ratusan komentar itu aku jadi memiliki teman-teman baru. Aku menambahkan beberapa YM ID mereka ke dalam Friend List ku. Dan sampai saat ini aku hanya menemukan 1 komunitas Blog yang erat saling berhubungan antara satu dengan yang lain, yakni Blogdetik. Aku juga terkesan dengan kekompakan dan rencana-rencana d’Blogger seperti rencana pembuatan kaos d’Blogger. Rencana penyumbangan ‘Sepuluh Ribu Rupiah untuk Palestina’. Serta award-award yang sangat kreatif bagi kriteria blog-blog tertentu.

Aku jadi makin cinta sama Blogdetik ketika seorang Staf detik.com meneleponku di siang hari dan bilang, “Selamat ya, Mba.. Kamu menangin tiket konser EXTREME di Senayan. Tiket bisa diambil pada jam kerja… bla.. bla..”

Ternyata usulanku untuk Blogdetik menang. Padahal aku cuma mengusulkan agar Blogdetik memiliki widget tersendiri yang bisa membuat para pengguna dan pembacanya mengetahui langsung berita terbaru dari Blogdetik tanpa harus ke www.blogdetik.com. Aku juga mengusulkan agar template bisa menggunakan CSS supaya tampilan bisa lebih menarik sekaligus mengekspresikan karakter dari blog itu sendiri. Dan juga sebagai ajang kreatifitas para pembuat template untuk berlomba membuat template yang menarik.

Hehehe… aku mendapatkan tiket seharga Rp 350.000,- dan kemudian aku jual seharga Rp 250.000,- kepada salah seorang temanku. Makin cinta deh sama Blogdetik!

###

Tulisan ini merupakan Pe’er dari Idep melalui komen di blogku, dan aku tidak akan melimpahkan pe’er ini ke siapapun karena aku tidak punya ‘wangsit’ untuk itu.

- depz.. nilaiku piro?- 

Januari 3rd, 2009

Pe’eR di taHUn 2009

Posted by marlisakurniaty in Tak Berkategori

Barusan lagi asik maen CapsaH sama Edri, Buki and Fadil.. tiba-tiba 1 window kecil muncul. Ternyata YM message dari kang Roby Fauzan. Dia bilang, ” mbak…ada pr dari saya”

Aku jawab, “opo?”

“bentar yah”

“ok”, sambil menunggu. Gak berapa lama muncul balasan yang singkat padat dan jelas…

“http://muridkehidupan.blogdetik.com/2008/12/31/ngerjain-pr-di-malam-tahun-baru/  silakan dikerjakan please he he he”

“okay. with pleasure”

“thanks”

***

PRnya cuma copy-paste pernyataan dibawah ini, trus cari deh gambar yang sesuai dengan jawaban dari kita.

Here we Go…!!!

1. THE AGE OF NEXT BIRTHDAY

24

gaK kerasa udah mau 24 tahun

2.THE PLACE I WOULD LIKE TO VISIT

Green Canyon 

Green Canyon di dekat Pangandaran

3. MY FAVOURITE PLACE

Zoe depok 

Zoe Depok, Jl. Margonda Raya

4. MY FAVOURITE FOOD

kentang 

Segala macem bentuk dan perubahan kentang dalam bidang kuliner… hmm yummy!

5. MY FAVOURITE COLOR

pink

pastinya PINK

6. CITY I WAS BORN

rspp jakarta

RSPP Jakarta, pastinya di Jakarta

7. NICKNAME I HAD

nickname

8. COLLEGE MAJOR

adm ui 

Administrasi Niaga, konsentrasi SDM

9. BAD HABIT

ngenet

Bgadang maen LaptOp, ngeNet - viwawa - ceting - fesbuk. NgebLog?? kaLo mood aja, hehe!

10. HOBBY

ngenet

 browsiNg bersama Om Google. Nyoba jebolin password orang, tapi jarang berhasil. Maen games online. buka Kaskus.

11. MY WISH LIST

wish-1.jpeg

Jadi bos dan punya bawahan… I was born to lead!

wish-2.jpeg

Tinggal di apartemen, biar ga kena macet.. 

wish-4.JPG

Menemukan pria soleh yang bisa ‘menaklukkan’ diriku… trus hidup bersama sampe kakek nenek. 

wish-5.jpeg

berjilbab. pasti. 

wish-6.jpeg

 naek haji.. (Ya Allah kabulkan lah niatku ini, amiin..)

12. THE THING THAT I LIKE IN ALL OCCASIONS

occasion.jpeg

Pengennya sih semua XXI di Jawa Barat dicobain ^_^ 

***

Suka duka pas mengerjakan PR ini :

  • Pas nyari gambar yang pas dengan keinginan… cuma GOOGLE jawabnya! masih gampaaaaang…
  • Trus pas mau masukin gambar.. UUghh aku gatau gimana caranya. Untung kang Roby masih online di YM. Thanks God!
  • Pas udah masukin gambar, klik “Simpan dan Terus Sunting”. Eh… eh.. kok semua gambarku gak keluar??? damn! Terpaksa ulang lagi dari awal… hiks! Ini bagian yang paling menyedihkan. Ternyata kata Kang Robby, setiap upload 4 gambar sebaiknya langsung save (ooohh gitu toh.. piye thO..)
  • Intinya, yang seharusnya sejam kelar.. malah jadi 2 jam lebih deh.. huhu
Halaman Berikutnya »
  • Monthly

  • Blogroll

  • schizophrenia

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web