Ini Bukan Pria Yang Aku Cari (PART 1)
“Ini bukan pria yang aku cari…”
Hari ini usia anakku menginjak usia 3 tahun. Dia sangat cantik, lucu, pintar, cerdas dan galak… Tidak tahu kenapa, di harinya yang istimewa ini aku malah merasa ini adalah hari yang lumayan buruk. Terlebih ketika lagi-lagi aku berhubungan kontak dengan mantan suamiku…
***
Aku pulang kerja agak malam hari ini. ATM ku tertelan di mesin atm bintaro. Ketika sampai dirumah, ak melihat wajah Nesya yang berseri-seri. Ternyata di ruang tamu ada satu set mainan anak, lucu sekali. Warnanya pink. Mainan masak-masakan itu terlihat mahal. Jika dihidupkan kompornya, maka akan keluar suara dan lampu kelap kelip. Pantas saja jika Nesya terlihat ceria malam ini. Aku perkirakan harganya ratusan ribu rupiah. Lalu ak bertanya, “Ini dari siapa?”
Nesya menjawab, “Dari Bapak.” sambil menunjukkan tombol-tombol yang kiranya memiliki efek menghidupkan lampu-lampu lucu pada mainan itu. Aku senang melihat Nesya gembira, namun sebenarnya dalam hati ini sangat sakit sekali ketika tahu bahwa itu pemberian dari Bapaknya. Bapaknya bisa memberikan 2 mainan mahal untuk Nesya yang harganya ratusan ribu rupiah dihari ulangtahunnya, sedangkan aku pontang panting mengurus cashflow keuangan sejak perceraian itu belum terjadi.. aku berperan sebagai singleparent -singleparent yang berusaha untuk tidak menjadi parasit orangtua terus terusan.
***
Aku jadi teringat memori-memori buruk tentang pernikahanku dengannya. ‘Salahkah aku jika meninggalkan laki-laki yang tidak pantas bagi Nesya dan aku? Aku merasa Nesya dan aku pantas menerima kepala keluarga yang layak’
Flashback ke masa lalu mulai terputar dalam ingatan… sebenarnya aku tidak ingin mengingat-ngingat tentang ini… Tapi aku belum menemukan bagaimana caranya mengatasi kesulitan tidur ini kecuali dengan menulis…
***
Di awal pernikahan kami, aku merasa ‘inilah harapan baru’ ‘inilah kehidupan baru’. Aku banyak menaruh mimpi-mimpi masa depan di dalamnya. Termasuk masa depan untuk bayi yang aku kandung saat itu. Aku sangat bahagia mengandung seorang bayi di dalam rahimku. Setiap hari aku membayangkan akan seperti apa anakku kelak. Aku banyak makan sayur. Aku tidak pernah makan makanan ber-MSG selama hamil. Jika aku tidak bisa memberikan makanan yang selalu baik, maka aku harus tetap membuat bayi mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung MSG. Aku makan makanan rumah, dan jika mengidam hanya berkeinginan makan pisang pontianak saja.
Ketika kandungan berusia sekitar 32 mingguan, suamiku mulai menunjukkan sikap-sikap yang aneh. Dia sering meninggalkanku berhari-hari untuk bermain kartu dirumah temannya. Kadang dia suka pergi beberapa hari dengan sangat tiba-tiba hanya untuk kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Mudah sekali dia mengirimkan sms, “Lis, aku sudah di Bandung. Nginep 3 hari sama temen-temen.” sedangkan sebelumnya tidak ada kata-kata ‘permisi’ untuk meminta persetujuanku. Aku terpaksa sering menerima keadaan yang seperti itu di saat kehamilanku menginjak usia semakin tua.
Dia tidak pernah tahu bagaimana aku merasa sangat ditinggalkan. Terlebih jika dia sedang tidak ada proyek (libur) dan tetap pergi seolah memang bekerja seperti biasa. Suamiku sangat pintar berbohong. Dia mengaku ‘bekerja’ kepada orangtuaku, padahal aku tahu dia main DOTA games online di kos-kosan temannya di Depok dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore layaknya seorang pekerja. Awalnya aku membiarkan hal ini karena aku melihat dia sangat senang jika berkumpul dengan teman-temannya. Namun ketika menginjak usia kehamilan 6 bulan, aku mulai merasa sangat keberatan. Terlebih pada saat aku sibuk membantu mengetik tugas miliknya di rumah, suamiku malah sibuk main DOTA seharian di kosan temannya.
Ketika usia kandungan 8 bulan. Aku ingin dia bersiap-siap jika tiba-tiba bayinya lahir. Kenyataannya, suamiku malah tidak pulang 3 hari untuk ikut pertandingan kartu bersama-sama tim nya. Aku sedang hamil tua dan aku tidak pernah setuju jika dia pergi seenaknya berhari-hari tidak pulang seperti biasa. Dia selalu memberi kabar ketika sudah berada jauh disana. Sering sekali kami ribut-ribut sampai akhirnya tiba dimana ketubanku pecah sebelum waktunya.
Aku sangat kaget pagi itu. Tiba-tiba banyak cairan bening di kasurku. Aku mengira aku mengompol di kasur. Ternyata ketubanku pecah. Aku langsung dibawa ke rumahsakit bersalin dan diberikan suntikan oleh dokter. Aku mengalami bukaan dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Rasanya seperti mau mati. Sakit sekali. Terkadang aku merasa seperti tidak akan bisa bernafas karena menahan sakit. Jika sedang kesakitan, mulutku megap-megap seperti ikan yang kesulitan bernafas. Suamiku selalu senyum-senyum melihat aku kesakitan. “Muka kamu lucu.” katanya…
Aku sangat sakit hati mendengarnya… Dia pikir aku badut? aku sedang kesakitan!! Dan disaat aku sedang megap-megap itulah tiba-tiba dia memasukkan pisang goreng besar ke dalam mulutku. Aku hampir tidak bisa bernafas saat itu karena nafas yang aku ambil kebanyakan dari mulut. Aku merasa akan mati sampai disaat dia menarik kembali pisang itu dari mulutku setelah selesai tertawa. Tepat di saat itu hatiku berkata, “Ini bukan pria yang aku cari…”
Namun aku masih berpikir dia adalah laki-laki yang baik. Dia meluangkan waktu untuk menemaniku dirumah sakit, dan sebentar lagi bayi ini akan lahir. Aku sangat tersiksa ketika kontraksi itu tiba-tiba datang. Setengah hari lamanya..
Pukul 2 lewat ak merasa bayi ini akan keluar. Para suster segera menyiapkan alat-alat untuk melahirkan. Mereka bergegas memindahkan aku ke ruangan bersalin. Salah satu suster berkata, “Ibu.. Suaminya Marlisa mana? Sebaiknya ada yang menemani pas bayinya akan lahir.”
Ibuku berkata, “Saya saja yang menemani, Sus. Suaminya baru saja pergi ada urusan mendadak.”
Di dalam ruangan aku sangat kecewa ketika tahu dia tidak menemaniku. Anaknya akan lahir, bukankah seharusnya dia menyambut dengan sukacita sambil berada disebelahku? Bagaimana dengan perkataan-perkataannya dulu yang bilang akan menemaniku saat melahirkan?
“Dia kemana, Ma?”, aku bertanya. “Tadi pamit mau cari warnet yang deket. Katanya ada urusan penting.” Jawab ibuku.
Dunia rasanya terbalik. Aku ingin segera kiamat saja jika mengingat kejadian ini. Aku kecewa. Dan bagiku, Tuhan mulai menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Bayiku lahir pada pukul 14.28 dengan berat 2,8 kilo. Kelahiranku normal. Dokter bilang jahitanku akan mengering dan sembuh dalam jangka waktu 1 bulan.
***
Bayiku diberi nama Nesya Khairunisa. Nesya pemberian dari ibu mertua, sedangkan Khairunisa pemberian dari orang tuaku. Belakangan aku tahu bahwa Nesya adalah nama bayi perempuan mertuaku yang sempat meninggal.
Keseharianku terasa sangat berbeda setelah ada kehadiran Nesya di rumah. Nesya termasuk bayi yang sangat aktif. Setiap satu jam sekali ia menagih susu. Itulah sebabnya berat badanku yang tadinya naik sekitar sebelas kilo, langsung turun drastis dalam sebulan. Aku mengurus Nesya bergantian dengan ibuku. Terkadang ibu mertua juga datang untuk membantu.
Baru 1 minggu usia Nesya. Keluarga tante dari pihak suami datang ke rumah. Mereka membawa banyak perabotan bekas yang masih bisa dipakai untuk Nesya. Ketika siang hari sebelum mereka pulang, salah satu tante tersebut berkata kepadaku, “Suamimu semenjak kawin kok jadi kelihatan tidak terurus ya? kaya orang gak mandi. Lihat tuh kuku kakinya item-item gitu.”
Aku menjawab, “Iya, belum sempat urusin karena jahitan belum kering. Belum bisa mondar mandir.” Aku mengeluh dalam hati, ‘Jangankan mengurus suami… suamiku saja tidak mau bangun kalau Nesya minta susu satu jam sekali.’
Tidak lama ibu mertuaku datang. Dia menimpali pembicaraan sebelumnya dan berkata, “Iya ya, suaminya kaya gak keurus… Kamu itu Lis.. seminggu sekali sikatin donk badannya. Apalagi dibagian belakangnya kan dia gak bisa sikat sendiri, kamu sikatin supaya gak berdaki. Terus kukunya, itu selama mama yang urus belum pernah kuku kakinya hitam kaya gitu. Biasanya mama sikat juga pake sikat kaki.”
Aku terdiam. Kaget setengah mati. Aku berpikir apakah orang-orang ini tidak pernah merasakan mengurus bayi sendiri? Setiap jam aku bangun.. Tidur tidak teratur mengikuti bangun dan pipisnya sang bayi, mereka malah menyuruh aku mengurus suami layaknya bayi juga?? Idealnya bagi ku, suamiku yang harus membantuku mengurus bayi, bukan malah aku mengurus orang yang sudah gede!!! Mencuci popok anaknya sendiri dia tidak mau… Hanya ibuku yang benar-benar ikhlas mengurus aku dan Nesya, sampai jahitan ini benar-benar sembuh.
*** bersambung ***
Sebelum kisah ini benar-benar komplit dan jika suatu hari Nesya sudah dewasa,,, sehingga membaca ini semua, aku ingin ia tahu bahwa aku sudah memilih jalan yang terbaik bagi semuanya. Baginya, aku, Bapak, Ibu dan keluarga mertua.









