Ada satu pria yang sangat soleh yang aku kenal. Namanya Zain Mardhika. Dulu aku sering melihatnya sedikit menyendiri di bangku sekolah. Mmm bukan menyendiri, mungkin lebih pas jika dibilang dia pemilih dalam berteman. Dia bukan orang yang pendiam sekali, dia bisa melucu dan diam-diam menghanyutkan. Dia sangat sederhana dan tidak pernah bergaya. Pernah aku memperhatikan sepatunya, lalu aku bertanya dalam hati ‘kenapa dia tidak membeli yang baru?’
Aku masih ingat bagaimana rasa penasaranku saat itu tentang cara hidupnya, sangat jauh dari bergaya. Selalu setiap tahun aku melihat Zain mengenakan pakaian seragam berwarna kumal. Aku sempat berfikir untuk membuntutinya jika pulang sekolah, tapi hal itu aku hapus dari tumpukan niat-niat anehku.
Baru malam ini aku bertanya langsung padanya. Ternyata rasa penasaranku yang dulu itu sangat beralasan. Ada kisah yang sangat menarik dibalik penampilannya semasa SMP itu. Ya, dia memang memiliki daya tarik tersendiri bagiku.
Aku sempat menitikkan air mata ketika tahu bahwa dia hidup tanpa kedua orangtuanya. Dan aku hanya bisa menarik napas sedalam-dalamnya saat dia bercerita bahwa adalah keputusannya sendiri untuk hidup tanpa Papa dan Ibu. Keputusan yang sangat berani untuk anak yang baru mau menginjakkan kaki pada sekolah menengah. Kok bisa? Ternyata pria ini sudah memiliki Allah di dalam hatinya sejak kecil. Tanpa kedua orangtuanya dia mampu bersekolah dengan cara mendapatkan beasiswa-beasiswa. Padahal kedua orangtuanya masih ada.
Yang paling menyentuh adalah cerita dirinya yang bisa berkuliah karena kekuatan sholat dhuha. Semasa SMA, Zain selalu berusaha mendapatkan beasiswa karena dirinya tidak mau merepotkan keluarga. Walaupun otaknya encer, ternyata Zain sangat sering membolos pada saat mata pelajaran pertama di pagi hari. Semua itu dia lakukan karena dirinya lebih mengutamakan solat Dhuha daripada belajar di kelas. Wow! That’s cool! -Asli keren abis. Perbandingan yang tidak bisa disamakan dengan anak-anak sekolah yang membolos untuk main PS atau makan di kantin-
Karena aksi pembolosan yang sangat sering, ada salah satu guru yang menaruh curiga. Zain pun diselidiki dan langsung dipanggil menghadap. Lalu Zain menceritakan kondisi keluarganya yang broken home pada saat itu. Dia juga menjelaskan bahwa selama ini dia bersekolah tanpa biaya sepeserpun dari kedua orangtuanya. Luluh lantah hati sang ibu guru mendengar perjuangan Zain yang pintar ini, berjuang demi bersekolah. Zain pun akhirnya direkomendasikan masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung dan mengambil jurusan teknik.
Subhanallah! Benar-benar kegalauan hati temanku ini dijawab olehNya. Sedangkan aku?? Semasa ABG seperti itu kemana aku mengadu? ke teman-teman. Semasa SMA aku malah lupa akan Tuhan. Padahal Tuhan adalah tempat terbaik untuk dimintakan pilihan yang terbaik. Sungguh bodohnya aku, memiliki jalan keluar yang terbaik tetapi tidak menyadarinya. Malah punya keinginan untuk memecat Tuhan…
Aku benar-benar malu jika membandingkan masa-masa muda diriku dengan Zain. Tapi begitulah jalan hidup, berbeda-beda jalurnya untuk setiap orang. Dan kini Zain sedang mempersiapkan diri untuk bersekolah S2 di Jerman. Benar-benar aku salut! Zain mampu bersekolah tanpa biaya dari orangtua padahal Papanya adalah presdir komisaris di salah satu oil company. Yang paling membanggakan adalah semua prestasi dirinya, semua kekayaan orangtuanya tidak membuat Zain jauh dari Allah.
Semoga Allah tetap melindungi Zain agar tetap dekat denganNya. Karena dari sanalah aku jadi mulai berkaca ke dalam diri sendiri… kapan aku akan berjilbab? Karena jilbab adalah suatu kewajiban dariNya.
Terkadang, tanpa sadar seseorang dapat memberikan kita semangat atau sesuatu yang berbeda yang dapat membuat kita tergerak -tersadar- untuk berubah.