Gejala Skizofrenia Part 2

13 Jan 2011

Adikku, kepercayaannya terhadap Tuhan selalu berubah-ubah sesuai dengan keras dan lembutnya bisikkan dari suara-suara yang mendengung di telinganya; kadang Islam, kadang Kristen, kadang ateis.

Tanpa terencana, sekilas saya membaca mengenai gejala Skizofrenia (Schizophrenia) dari halamanWikipedia. Ingatan saya kembali pada masa-masa umur belasan tahun ketika baru saja menginjak bangkuSMU. Pada saat itu saya melihat sendiri gejala-gejala Skizofrenia (Schizophrenia) pada adik saya.

Hati saya tergetar untuk menjabarkan pengalaman-pengalaman tak terlupakan mengenai gejala Skizofrenia(Scizophrenia) ini. Berikut saya ingin menguraikan gejala Skizofrenia (Schizophrenia) berdasarkan datadari Wikipedia dan dibandinkan dengan kenyataan yang saya lihat dan alami. Jika saja gejala inidiketahui lebih awal, maka kemungkinan untuk sembuh akan lebih besar. Semoga Tuhan mempercepatpenyembuhan Skizofrenia yang di derita adik saya, amiin.

***

Wikipedia said:

3. “… sloppiness about dress and hygiene, and loss of motivation and judgement are all common in schizophrenia. There is often an observable pattern of emotional difficulty, for example lack of responsiveness or motivation… / kecerobohan dalam berpakaian dan kebersihan, serta kehilangan motivasi dan penilaian adalah hal yang biasa dalam penyakit Skizofrenia (Schizophrenia). Terkadang dapat diamati bahwa terdapat pola atas kesulitan emosional, misalnya sangat kurangnya responsif dan motivasi… “

Semenjak menderita Skizofrenia, adik saya menjadi jorok dan tidak dapat memutuskan harus berpakaian seperti apa. Dia tidak peduli jika memang (menurutnya) harus menggunakan kaos oblong dan celana dekil untuk kondangan. Sering kali dia berpakaian seperti pria jika sedang merasa dirinya seorang pria. Baju-baju yang sudah dipakai tidak dibedakan, melainkan ditumpuk di kamarnya sampai tinggi menggunung. Jika pakaian kotornya sudah menggunung di kamar, dia tidak akan betah dan akan mengamarkan dirinya di kamar orang lain. Jika sedang merasa beragama Kristen, dia akan mengenakan kalung salib sebagai hiasan diri. Jika sedang merasa Muslim, dia akan menggunakan jilbab selayaknya muslimah. Adikku, kepercayaannya terhadap Tuhan selalu berubah-ubah sesuai dengan kerasnya bisikkan dari suara-suara yang mendengung di telinganya; kadang Islam, kadang Kristen, kadang ateis. Diri dan penampilannya selalu menyesuaikan dengan kepercayaannya saat itu.

Terkadang, adik saya meminta pertukaran kamar beserta isinya dengan saya dan kakak saya. Bukan hal yang tidak mungkin jika berpindah kamar dan ruang terjadi 3-5 kali dalam sebulan. Yang menjadi korban adalah Ibu saya, karena beliau harus memindahkan lemari dan tempat tidur sendirian jika saya dan kakak sedang tidak ada di rumah. Tidak ada sedikitpun motivasi untuk membantu mengangkat barang-barang tersebut. Tidak pernah ada motivasi serius untuk bekerja, bahkan cuci piring sekalipun.

4. “Impairment in social cognition is associated with schizophrenia, as are symptoms of paranoia; and social isolation commonly occurs. In one uncommon subtype, the person may be largely mute, remain motionless in bizarre postures, or exhibit purposeless agitation; these are signs of catatonia /Penurunan kesadaransosial berkaitandengan skizofrenia, seperti juga gejala paranoia dan isolasi sosial sering terjadi. Dalam satu subtipe tidakbiasa, orang ini (Skizofrenia) memungkinkan menjadi sangat diam, diam dan tidakbergerak dengan postur (atau posisi) tubuh yang aneh, atau menunjukkan sikap bergejolak tanpa tujuan yang jelas, ini adalah tanda-tanda catatonia.

Salah satu hal yang paling menakjubkan dari penyakit Skizofrenia ini adalah kebisaan si penderita untuk diam tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan kadang gerakannya terlihat seperti kaku (baca: seperti robot). Ini adalah gejala yang paling menyebalkan yang pernah saya lihat, yang pernah saya rasakan.

Contoh nyata seperti ini:

Saya, adik, dan kakak sedang hang out ke mall. Ketika hendak menentukan tempat makan, saya dan kakak biasanya menanyakan selera makan Sari terlebih dulu.

Saya : “Ri, mau makan apa?”

Sari : “…..” sambil mengangkat bahu

Saya : “Jangan terserah gitu, gw gatau harus beli apaan yang lu suka.”

Sari : “….” sambil terdiam, tidak bergerak, menatap mataku dalam-dalam

Saya : “Knape lu?” sambil terheran-heran

Sari : “….” sambil menatap lebih dalam

Jujur saja ini hal yang sangat menjengkelkan sekali dari sekian banyak gejala Skizofrenia.

Penurunan atas kesadaran sosial tidak hanya sampai disitu. Penderita Skizofrenia (Schizophrenia) juga akan terlihat seperti orang yang paranoid. Awalnya penderita akan mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai keramaian, namun jika ditilik lebih dalam.. sebenarnya ketidaknyamanan tersebut muncul karena dirinya berpikir terlalu negatif terhadap orang-orang yang tidak dikenal. Pernah adik saya mengutarakan alasannya, yakni dirinya merasa semua orang menatap kearahnya dan membicarakan dirinya. Padahal orang-orang itu hanya melihat sekilas, bukan menatap berlama-lama. Adik saya berasumsi, orang lain membicarakan dirinya secara berbisik. Hal ini yang membuatnya sangat takut dan tidak suka berada di tengah keramaian. Semakin ramai tempatnya, bisikannya semakin berpeluang untuk mengatakan bahwa orang-orang disekitarnya membicarakan dan membahayakan dirinya. Dahulu, jika adik saya ada keinginan untuk jalan-jalan ke mall atau tempat ramai lainnya.. dia akan mengajak kami sekeluarga. Namun ketika sampai di parkiran mobil, dia tidak akan turun sedikit pun. Kami dipersilahkan jalan-jalan ke mall sedangkan dia berdiam diri atau lebih memilih tidur di mobil.

Perlu dicantumkan disini bahwa Paranoid adalah ajektiva, kata sifat, untuk penderita paranoia. Paranoia didefinisikan sebagai penyakit mental di mana seseorang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Sedang dalam kamus Webster, paranoia didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan yang tidak rasional/logis.


TAGS adikku schizophrenia skizoprenia schizohrenia skizofrenia gejala paranoid paranoia


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post