Hadiah Untuk Anak Yang Berprestasi, Salahkah?

7 Feb 2011

Anak adalah harta yang paling berharga yang harus dijaga. Salah satu bentuk kasih sayang adalah dengan memberikan hadiah kepada mereka…tanpa syarat.Apa yang menurut kita sebagai orangtua adalah yang terbaik, belum tentu baik pada zaman anak-anak kita. Jangan pernah berpikir bahwa cara lama akan berfungsi sama pada zaman anak-anak kita.

rewardsticker_boyKetika aku duduk di bangku sekolah, aku sangat menyadari bahwa aku bukan anak yang pintar, aku juga bukan jenius. Aku baru dapat membaca huruf ketika kelas 2 SD. Aku tidak menonjol sama sekali, kegemaranku adalah menyendiri dan mengamati orang lain. Di sisi lain, aku juga sangat menyadari bahwa menghasilkan prestasi adalah salah satu cara untuk tetap eksis menyamakan posisi terhadap adikku yang sangat disukai oleh teman-temannya. Aku? Aku tidak punya teman.

Adikku tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Sifatnya ceria, kata orang ‘anaknya rame dan lincah‘. Sebaliknya dengan aku, sangat senang dengan ketenangan.. tetapi terkadang harus berusaha ekstra lebih untuk berdekatan dengan orang lain. Aku si pecanggung.

***

Entah dari mana asal usulnya, prinsip utama di keluargaku adalah Pendidikan. Terbukti dari seratus permintaanku terhadap mainan dengan seribu permintaanku terhadap buku, rasio tercapainya ibarat 10:1000. Papaku sangat senang jika aku meminta dibelikan buku. Buku apapun.

Sejak bisa membaca, tempat rekreasi favoritku adalah Gramedia. Di sana aku bisa membaca gratis. Aku juga senang melihat peralatan-peralatan elektronik yang ada di sana seperti kalkulator, kamera, komputer, dan sebagainya.

Prinsip utama ini lama kelamaan berubah menjadi suatu budaya- “Barang siapa berprestasi di sekolah, maka boleh meminta hadiah”. Maksud kedua orangtuaku sebenarnya adalah untuk mendorong anak-anak terus berprestasi di sekolah, namun apakah sama dengan cara pandang aku waktu itu? Sama sekali tidak sama.

Kebetulan sekali, sejak bisa membaca prestasiku di sekolah sangat meningkat. Aku selalu berada di peringkat 3 besar dari kelas 4 SD sampai dengan kelas 3 SMP. Kedua orangtuaku bangga akan hal ini. Mama sering sekali membicarakan tentang peringkatku ini ke adikku.

Setiap tahun aku mendapatkan hadiah rata-rata sekitar 2 kali. Hadiah yang diberikan oleh orangtuaku biasanya berdasarkan permintaanku sendiri. Setahun, dua tahun, tiga tahun… kedua orangtuaku dan aku tidak menyadari bahwa sebenarnya kami sudah menumbuhkan benih-benih cemburu pada adikku. Bagaimana tidak.. kakaknya selalu mendapat hadiah sesuai dengan keinginan tapi dia tidak.

Terkadang kedua orang tuaku merasa tidak enak dengan adikku mengenai sistem hadiah ini. Mereka sering berdalih dengan kalimat “Kalian pakai berdua ya..!” Namun ini tidak banyak berpengaruh, karena pada dasarnya walaupun hadiah yang dibelikan boleh dipakai berdua sebenarnya adikku tetap menyadari bahwa hadiah-hadiah itu sesuai dengan permintaanku, hadiahku.

***

Suatu hari aku mendapatkan peringkat 3 besar lagi. Aku -atas saran mama meminta sebuah radio besar yang mampu merekam radio ke dalam kaset disaat yang bersamaan. Barang yang cukup mewah saat itu bagiku. Dua bulan lebih dari waktunya, kedua orangtuaku belum sempat membelikanku radio tersebut. Sampai akhirnya adikku mengatakan kepada papa, “Pah! Itu Lisa beliin radio. Kasian masa rangking ga dikasi hadiah..”

Itu adalah satu kalimat terakhir yang terlontar dari adikku ketika masih normal (belum terkena skizofrenia) yang sangat disesali oleh papaku sampai sekarang. Papaku bercerita sambil menitikkan air mata bahwa saat itu sinar mata adikku menunjukkan rasa cemburu yang besar yang disembunyikan rapat-rapat di dalam hatinya yang sangat lapang. Adikku sekarang sudah mengidap skizofrenia, masih saja terkadang terlontar kata-kata bahwa ia ingin menjadi sepertiku.. selalu rangking dalam pelajaran sekolah. Bayangkan bagaimana menyesalnya orangtuaku saat ini, karena sistem hadiah ini.

***

Anak adalah harta yang paling berharga yang harus dijaga. Salah satu bentuk kasih sayang adalah dengan memberikan hadiah kepada mereka…tanpa syarat.Apa yang menurut kita sebagai orangtua adalah yang terbaik, belum tentu baik pada zaman anak-anak kita. Jangan pernah berpikir bahwa cara lama akan berfungsi sama pada zaman anak-anak kita.

Tulisan ini untuk Sari Febriyanti, adikku satu-satunya.


TAGS marlisa kurniaty sari febriyanti hadiah berprestasi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post