Sidik Jari dan Skizofrenia

18 Feb 2012

Mba Elsa

Mba Elsa

Baru minggu kemarin aku mereferensikan metode pembacaan karakter manusia melalui sidik jari kepada kedua orangtuaku. Aku bilang kepada mereka bahwa siapa tahu dengan pembacaan sidik jari, yang merupakan ‘cetakan’ sejak lahir, bisa terbaca apa minat dan bakat adikku yang menderita skizofrenia.

***

Adikku menderita penyakit skizofrenia (schizhophrenia) sejak tahun 2000, itu artinya sudah 10 tahun lebih keluargaku berusaha menyembuhkan penyakit adikku dengan berbagai cara. Mulai dari cara tradisional sampai dengan cara modern. Namun semuanya menemui kebuntuan karena penyakit ini pada dasarnya tidak dapat disembuhkan, melainkan hanya bisa melakukan pencekalan terhadap halusinasi dengan berbagai cara.

Pencekalan halusinasi biasanya yang ampuh adalah dengan menggunakan obat-obatan yang dianjurkan oleh psikiater. Jika semakin membaik, maka dosisnya pun dikurangi. Namun tetap akan ketergantungan dengan obat-obatan tersebut. Disisi lain, ada beberapa penderita skizofrenia yang berhenti total dari penyakitnya setelah dosis obat yang semakin berkurang; karena penderita ini berhasil mencekal halusinasi mereka dengan cara bersibuk melakukan aktivitas. Kedua orangtuaku, dianjurkan oleh psikiater dan dokter-dokter lainnya agar memberikan adikku banyak kegiatan yang mungkin akan mampu mengusir atau mengalihkan pikirannya dari halusinasi pendengaran.

Beberapa jenis aktivitas sudah ditawarkan orangtua kepada adikku. Mulai dari pekerjaan rumah yang simpel, aktivitas diluar rumah seperti kursus dan kuliah, sampai dengan aktivitas seni. Kesemuanya tidak ada yang digubris. Untuk aktifitas pekerjaan dirumah, adikku kadang masih mau melakukan cuci piring dan jemur pakaian, tapi tidak pernah dilakukannya sampai selesai karena setelah 15 menit pasti langsung dia tinggal begitu saja. Untuk aktifitas diluar rumah, orangtuaku menawarkan mulai dari kursus jahit, kursus bahasa, kursus memasak, sampai dengan kuliah yang singkat (D1 atau D3); semuanya tidak ada yang mau dijalani oleh adikku. Bukan karena tidak ada motivasi, tetapi lebih cenderung karena tidak ada rasa percaya diri yang cukup untuk menjalaninya. Adikku merasa sudah terlalu lama menganggur. Dia merasa isi kepalanya sudah tumpul sekali.

Kedua orangtuaku berusaha meyakinkan bahwa adikku masih bisa akan lulus asalkan sungguh-sungguh, sebaliknya justru kesungguh-sungguhan itu yang semakin membuat adikku semakin tidak tertarik… Belum ada yang berhasil menghancurkan rasa tidak percaya dirinya ini.

Mencoba dengan menawarkan jenis aktifitas lain, kedua orangtuaku mencoba untuk mengajak adik ikut kegiatan seni menggambar yang ada di forum Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Tidak juga berhasil.

Bertahun-tahun adikku menganggur.

***

Februari 2012 ini, aku mengantar anakku mengikuti lomba menggambar dan bahasa inggris tingkat TK kecil di Senayan. Ketika akan pulang, aku menemukan stand Elsa Sidik Jari. Dengan diskon-diskon yang diberikan, maka aku pun tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang karakter bawaan anakku. Tipe laporan sidik jarinya ada 2 macam, yakni laporan sidik jari yang singkat (global) dan laporan sidik jari yang lengkap (full report).

Awalnya hanya mencoba laporan yang singkat saja, karena harganya murah :) hanya 50.000 di pameran. Tapi setelah dibacakan dan dijelaskan hasilnya secara gamblang oleh Bu Elsa, aku malah semakin penasaran dengan gaya belajar anakku. Walhasil, setelah didorong oleh mertua… aku malah memesan yang laporan sidik jari versi lengkap (full report) untuk anakku, harganya 500.000 dari harga awal 600.000; hasilnya akan keluar setelah 2 minggu.

***

Aku mengajak kedua orangtuaku untuk melakukan analisa sidik jadi terhadap adikku. Harapannya, agar lebih mengetahui apa minat kegiatan yang dimiliki oleh adikku. Orangtuaku setuju dan akan melihat hasilnya bersama-sama tanggal 15 Februari 2012, sekaligus berkonsultasi gratis untuk membahas hasil sidik jari dengan tim Elsa.

***

Tanggal 15 Februari 2012, aku dan keluarga datang ke kantor Elsa Sidik Jari. Awalnya dijelaskan selama lebih dari 1 jam tentang karakter anakku berdasarkan sidik jari ke-10 jarinya. Pembahasannya mulai dari bakat yang dimilikinya, gaya belajar, sampai dengan referensi pekerjaan yang kira-kira akan sesuai dengan ‘pembawaan’ nya.

Setelah itu giliran penjelasan tentang laporan sidik jari adikku. Didapati disana bahwa adikku memiliki sifat yang perfeksionis, ekstrovert, banyak memendam perasaan (antara input dengan output terpaut terlalu jauh) dan mampu melihat kedepan (punya kompetensi visioning). Hanya saja semua hal tersebut tidak terlihat (tertutupi) karena penyakit skizofrenia yang dideritanya. Berbagai karakter dan bakat yang dibawanya sejak lahir, tidak tampak akibat penyakit ini. Contoh kecilnya saja, karakter ekstrovertnya mulai hilang sejak menderita skizofrenia. Masih banyak karakter lain yang ‘tertutup’ sehingga membuat laporan sidik jarinya hanya bisa dilihat berdasarkan gaya belajarnya saja.

Dari gaya belajarnya diketahui bahwa adikku itu suka dengan gaya belajar auditory dan visual. Dari auditory, kedua orangtuaku mulai memahami kenapa adikku suka sekali mendengar musik. Selama ini kedua orangtuaku sangat khawatir dengan hobi adikku yang suka dengar musik berlebihan, namun sekarang mereka jadi lebih mengerti bahwa memang disanalah minat adikku yang sebenarnya.

Selain auditory, adikku juga lebih cepat belajar dengan gaya visual berua teks. Disarankan agar adikku lebih banyak menulis. Menulis apapun yang dia inginkan. Dari tulisan itu, jika ada yang berupa pertanyaan maka disarankan untuk menjawab dalam bentuk teks pula. Ini disebabkan, adikku lebih mudah menerima pelajaran/informasi dari pembacaan text ketimbang diberitahu lewat omongan.

Dari hasil sidik jari juga diketahui bahwa adikku sangat suka dengan sentuhan sayang, terutama sentuhan orangtua. Selama ini memang orangtuaku hampir tidak pernah mengelus rambut atau sekedar memeluk anak-anaknya. Sejak saat itu, kedua orangtuaku disarankan untuk sering menyentuh adik untuk menunjukkan rasa kasih sayang orangtua kepada anaknya, karena tanpa berkatapun… penderita skizofrenia dapat merasakan sentuhan kasih sayang orangtua sama seperti anak biasa. Penderita skizofrenia sangat membutuhkan perasaan nyaman (yang selama ini hampir tidak pernah di dapatnya).

Saran lainnya, kedua orangtuaku yang sangat jarang berbicara dengan adik diminta untuk rutin berbicara dengan adikku setiap hari. Kedua orangtuaku hanya sedikit sekali berbicara atau ngobrol dengan adikku dalam kondisi santai atau sehari-hari. Mereka hanya memanggil adik untuk makan pagi, siang, dan malam. Mereka tidak pernah melakukan sesi pembicaraan dari hati ke hati ataupun pembicaraan santai dalam kehidupan sehari-hari. Kedua orangtuaku sangat kaku karena hasil didikan dari kakek dan nenek yang keras.

Orangtuaku bercerita bahwa jika dirinya menyentuh atau mengajak adikku berbicara, maka adikku akan menghindar. Aku dapat memahami bagaimana perasaan adikku.. Bagaimana mau nyaman dengan sentuhan dan obrolan jika selama 20tahunan umur kami ini, hampir tidak pernah kami benar-benar bicara dari hati ke hati?? Pastinya butuh pembiasaan yang cukup, baru akan terhapus sikap-sikap “menghindar” yang dimaksud oleh orangtuaku.

***

Hasil sidik jari yang tidak kalah penting dari laporan full report ini adalah diketahuinya tingkat ketahanan stress adikku yang rendah. Dijeaskan bahwa adikku punya karakter yang tidak cukup kuat menghadapi tekanan/stress yang kadarnya lumayan tinggi.

Memang pada saat adikku kelas 2-3 SMP, ia menghadapi masalah yang cukup berat. Adikku mengalami 2 masalah yang belum bisa diterimanya pada usia 14 tahun, baginya kedua masalah tersebut sama seperti pukulan hebat yang mengenai dirinya.

***

Bagaimanapun, kesimpulan dari hasil sidik jari.. disarankan agar adikku lebih aktif berkegiatan menulis. Karena itu merupakan salah satu hal yang masih terlihat diminati olehnya selain mendengar musik :)


TAGS adikku schizophrenia skizoprenia skizofrenia sidik jari


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post