Hatiku Berbicara Malam Ini

10 Aug 2013

Ya Allah, tidak tahu kenapa tiba-tiba aku seberani ini terbangun untuk memenuhi panggilan hati dari-Mu. Mungkin sudah terlalu banyak dosa yang bersemayam di dalam diri ini, sampai-sampai mampu mengalahkan ketakutanku akan gelap dimalam hari. Mungkin sudah terlalu kotor hati dan pikiranku, sampai-sampai aku jadi berani menghampiri keran air di malam hari hanya untuk bersuci.

Aku tergeletak di perebahan yang baik malam ini. Tubuhku terkulai, tetapi tidak dengan jiwaku. Aku lelah, mataku merasakan kantuk, tetapi hatiku tidak mengizinkan untuk tidur. Sejenak aku berpikir bahwa aku insomnia. Lalu aku membuka smartphone androidku, browsing… edit foto… update status Facebook… update Path… sampai akhirnya aku bosan dan dua jam telah berlalu. Aku berpikir kenapa aku membeli smartphone semahal ini hanya untuk hal yang mubazir? Pikiranku terarah untuk bisa memanfaatkan alat teknologi ini untuk menghasilkan kebaikan untuk diriku sendiri, tapi apa? Akhirnya aku mencari aplikasi-aplikasi islami, berharap bisa mendekatkanku kepada Ilahi walau hanya seujung jari…

###

Tik tok.. tik tok.. empat jam berlalu begitu saja tanpa arti. Tanpa terasa akhirnya aku selesai mendownload aplikasi gratis di Google Play dan salah satunya adalah aplikasi tentang kisah-kisah inspirasi dari dunia Islam.

Hatiku terhenyak ketika membaca salah satu kisah islami yang menjelaskan bahwa

hal yang paling merugi bagi manusia adalah menyia-nyiakan waktu. Kesia-siaan waktu

Hatiku tergelitik membaca kilasan intisari AlQuran dari cerita ringan yang menyatakan tentang hal tersebut. Aku mencoba membaca kisah inspirasi Islami lainnya dari aplikasi itu. Aku membaca kisah-kisah disana sebagai pengantar tidur saja, dan aku berpikir nantinya akan mengantuk dan tertidur… tapi ternyata tidak. Aku merasa ada yang mendorong dari dalam hati untuk melakukan sholat malam ini, tapi aku takut untuk keluar kamar dimalam hari. Aku takut gelap. Aku takut ke kamar mandi sendiri. Aku malu untuk membangunkan suamiku hanya untuk minta ditemani berwudhu.

Maka aku putuskan untuk berhenti membaca-baca kisah inspirasi Islami dari aplikasi tadi agar tidak terdorong sholat dan melanjutkan insomniaku untuk fesbukan saja. Semakin lama aku browsing dan bermain Facebook, hatiku semakin terasa meronta. Bayang-bayang tentang betapa meruginya diri ini karena menyia-nyiakan waktu semakin saja terasa. “Apa manfaatnya berlama-lama fesbukan? itu hanya hiburan dunia saja.”, begitu katanya dari dalam diri ini.

Ini sudah jam setengah 3 pagi. Hatiku semakin memberontak, mendorongku untuk bangun dari tempat tidur. “Ambil wudhu!”, katanya.

Aku pun menjawab kembali, “Aku tidak berani! Sudah jangan mengajak aku lagi.” Aku mencoba melawan dorongan hatiku sampai beberapa kali. Sampai akhirnya panggilan hati itu terhenti. Aku chatting dengan orang lain. Aku mengobrol tetapi hatiku terasa kosong. Aktifitas yang ku pilih tidak menghapus kegalauan di dalam sini (menunjuk ke hati).

###

Entah kenapa aku takut ditinggalkan suara hati tadi. Aku takut hatiku menutup.. Aku takut hatiku bebal dan terselimuti kabut anti kebenaran. Aku pernah membaca bahwa ada beberapa hati yang menjadi keras karena terselimuti kelalaian berulang-ulang hingga menjadi tidak peka akan panggilan Tuhan. Aku tidak mau itu…

Tiba-tiba aku bangkit dari tidur, aku lawan rasa takutku dan segera keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk meraih keran air. Di depan pintu kamar mandi aku meminta perlindunganNya, “Allahumma inni a’uzibika minal khubusi wal khobaa itz” dan aku tahu artinya ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’ Ini doa mau masuk kamar mandi yang diajarkan ibu Guru sewaktu SD.

Seketika hatiku tenang karena merasa yakin Allah menjagaku. Aku mengambil wudhu dan segera kembali ke kamar. Aku melakukan ibadah, dan terasa dadaku hangat sekali ketika membaca surat Al Fatihah. Aku merenungkan setiap ayat Al Fatihah yang aku baca. Aku mengerti artinya, hatiku terenyuh. Terasa sekali bahwa aku sangat hina, banyak dosa. Aku merasa tidak tahu malu, tidak mendekatkan diri kepada-Nya padahal nikmat yang aku terima sudah sangat baik. Seharusnya aku selalu ingat sama Allah, tetapi nyatanya aku sering lupa.

Aku menangis menyadari bahwa Allah memberikan nikmat kendaraan dan bensin gratis dengan bentuk rental mobil dari kantor suami. Sehingga kenaikan bbm tidak terlalu terasa bagi keluarga kami… Subhanallah Maha Besar Allah.

Aku menangis menyadari bahwa Allah telah mempercayaiku untuk mengurus dua anak perempuan yang lucu. Anak pertama berotak cerdas dan berhati sangat baik sekali. Sedangkan anak kedua cantik dan pintar, kulitnya seputih salju.. persis seperti permintaanku kepada-Nya ketika beberapa minggu sebelum melahirkan. Subhanallah, Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku sadar bahwa tidak semua perempuan bisa mendapatkan kepercayaan dari Allah seperti ini. Aku semakin menangis tersedu.

Aku menangis menyadari bahwa aku diberikan suami yang baik dan sabar selama ini. Aku tidak pantas untuk mengharapkan cinta yang lain, karena aku telah diberikan suami yang sempurna tepat seperti yang aku butuhkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui hambanya.

Aku terharu diberikan papa mertua yang sangat baik sekali, tinggal bersama kami selama 3 tahun ini.

Aku seharusnya bersyukur bahwa masih bisa membayar banyak sekali tagihan yang apabila dihitung dengan logika maka tidak sewajarnya kami (aku & suami) mampu membayar cicilan-cicilan tersebut jika bukan karena rezeki cicilan yang diberikan Allah. Aku tidak pantas membayangkan kehidupan mewah yang semakin dapat menjauhkan diri dariNya.

Aku menangis melihat Allah meminjamkan aku Baby Sitter yang baik dan berkualitas untuk membantu merawat anak-anakku di rumah. Allah adalah Maha Pengatur, sungguh Allah adalah Maha Pelindung untuk hambanya. Aku kembali tersedu… Kali ini aku butuh tisu.

Aku menangis menyadari bahwa selama beberapa bulan ini sudah secara sadar menjauhi diri dari-Nya. Tidak menjalankan kewajibanku sebagai muslimah. Tidak memanfaatkan posisiku sebagai seorang istri untuk mendulang banyak pahala dari peluang yang ada di rumah. Aku semakin ingin mengadu banyak hal kepada-Nya, tapi aku terlalu takut… takut untuk diketahui suamiku apalagi jika sampai membangunkannya hanya karena isak tangisku yang mungkin dia sendiri tidak tahu penyebabnya.

###

Aku menghentikan secara terpaksa pengaduanku kepada Tuhan malam ini karena khawatir suami dan anakku mendengar isak tangis anehku, tapi aku berjanji untuk mengadu padaNya atas segala beban yang aku rasakan. Aku akan kembali dalam sholat-sholatku. Aku sangat rindu menangis padaNya dan mengadu banyak hal.

Aku tidak mengerti kenapa terkadang aku jauh dariNya, dengan banyak kelalaian, lalu kembali kepadaNya meronta-ronta memohon ampunan karena telah banyak lalai. Lalu hal itu berlalu setelah melapangkan seluruh hatiku. Dan kembali lagi aku lalai kepadaNya. Dan kembali lagi aku menangis mengadu kepadanya untuk hal-hal kenikmatan yang kurang aku syukuri. Begitu seterusnya….Normalkah aku??

###

Aku rindu bersandar kepadaNya…


TAGS Tuhan Islami


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post